Minggu, 01 Mei 2011

[mencarimakna] Perfectionist

Nothing is perfect in this world, but the best does exist here, I know…
I want to be the best, so I often try to be perfect, am I wrong?
But, the way to get the perfection is hard, yeah…
And it drives me insane…
So, I’m often trapped in laziness…
On the end, I always hurt to race against the limit…
Apa perfeksionis itu? Apakah ia mengharapkan kesempurnaan?

Itu tergantung orang yang memilikinya (karakter perfeksionis). Tapi rasa-rasanya, mayoritas perfectionist people itu sebenarnya tidak mengharapkan kesempurnaan, melainkan berharap untuk menjadi yang terbaik di antara yang lain. Oleh karena itu, mereka berusaha meminimalisir kesalahan dan kekurangan dengan 'mengejar' kesempurnaan.

Pastinya, usaha dalam mengejar kesempurnaan ini tidaklah mudah. Banyak hal yang harus diperhatikan, harus teliti dalam melangkah. Dan apa jadinya jika karakter perfeksionis itu didampingi dengan sifat malas???

Rasanya menyiksa sekali... [source: pengalaman pribadi]

Diri ini seperti terbelah. Di satu sisi, kita ingin hasil kerja kita nantinya menjadi yang terbaik. Di sisi lain, kita malas menempuh tebing curam menuju puncak kesempurnaan yang memang tak mungkin dicapai namun harus tetap dikejar untuk jadi the best.

Akhirnya, seringkali hasilnya nanti jadi 'netral', not the worst nor the best, just so so...

So, what should we do in this case?

Mari berteori...

Pertama-tama, rancang step-step kita untuk mengejar kesuksesan. Kiasannya, kita tentukan rute yang akan kita tempuh untuk berusaha mencapai puncak kesuksesan.

Kedua, laksanakan step-step tersebut dengan disiplin. Misalnya saja, jika kita telah mentargetkan 100 langkah pendakian untuk satu hari, maka kita harus melaksanakannya, tak lebih tak kurang. Jika lebih, bisa jadi hasil akhirnya nanti kurang maksimal. Jangan terlalu ngoyo! Jika kurang, secepatnya dilunasi! Supaya pekerjaan tetap selesai tepat waktu.

Ketiga, refresh motivasi. Tak jarang pula [bahkan sering] di tengah pendakian kita merasa hilang harapan. Kita mulai meragu akan diri sendiri. Mulai merasa diri sendiri tidak akan bisa memenuhi target yang diharapkan. Itulah perlunya refresh motivasi. Caranya? Tergantung masing-masing individu dong... Tapi mungkin, cara ini bisa dicoba: membaca [get to know] kisah-kisah inspiratif orang lain, tak harus orang terkenal, boleh juga kisah-kisah teman kita sendiri. Cara lainnya lagi: mengingat kejayaan masa lalu. Misalnya saja, dulu kita pernah berhasil mendekati puncak kesuksesan, lalu kenapa sekarang tidak? Pasti bisa dong...

Keempat, jangan lupa berdo'a. Ora et labora. Ikhtiar tak lengkap tanpa do'a. Bagaimanapun kita ini manusia yang lemah. Yang perlu bantuan Sang Pemilik dan Penguasa Yang Maha Segalanya.

Kelima, kalau sudah sampai di limit tertinggi yang bisa dicapai, jangan pernah berpuas diri [sombong]. Ingat, di atas langit masih ada langit dan manusia bukan makhluk sempurna.

Yeah, semoga saja teori ini bisa diterapkan... =)