Rabu, 07 September 2011
Ini JEWERAN TERAKHIR !! Sadarlah !!
Sabtu, 27 November 2010
About My New Love
Kali ini, SAYA mau cerita tentang New Love SAYA...
Q: Ngapain ke Jakarta?
A: Buat ikut Seleksi Nasional Youth Exchange and Study (YES) =D
Q: So, kenapa setengah hati gitu berangkatnya?
A: Coz, waktu belom berangkat pun, SAYA udah kangen sama temen-temen sekolah... huwaaa...
Kata-kata perpisahan kami saat itu adalah: "Met jumpa lagi di Orientasi ya!!"
![]() |
| Orang-orang hebat... salut sama kalian smuaa... =) |
PS: Now, I really miss you all, friends...
Senin, 01 November 2010
Men and Girls
Minggu, 31 Oktober 2010
Sisi Lainmu
Kamis, 07 Oktober 2010
Cinta [A Note by My Super Brother]
Cinta
Cinta tidak pernah meminta, ia sentiasa memberi, cinta membawa penderitaan, tetapi tidak pernah berdendam, tak pernah membalas dendam. Di mana ada cinta di situ ada kehidupan; manakala kebencian membawa kepada kemusnahan.~ Mahatma Ghandi
Tuhan memberi kita dua kaki untuk berjalan, dua tangan untuk memegang, dua telinga untuk mendengar dan dua mata untuk melihat. Tetapi mengapa Tuhan hanya menganugerahkan sekeping hati pada kita? Karena Tuhan telah memberikan sekeping lagi hati pada seseorang untuk kita mencarinya. Itulah namanya Cinta.
Ada 2 titis air mata mengalir di sebuah sungai. Satu titis air mata tu menyapa air mata yg satu lagi,” Saya air mata seorang gadis yang mencintai seorang lelaki tetapi telah kehilangannya. Siapa kamu pula?”. Jawab titis air mata kedua tu,” Saya air mata seorang lelaki yang menyesal membiarkan seorang gadis yang mencintai saya berlalu begitu sahaja.”
Cinta sejati adalah ketika dia mencintai orang lain, dan kamu masih mampu tersenyum, sambil berkata: aku turut bahagia untukmu.
Jika kita mencintai seseorang, kita akan sentiasa mendoakannya walaupun dia tidak berada disisi kita.
Jangan sesekali mengucapkan selamat tinggal jika kamu masih mau mencoba. Jangan sesekali menyerah jika kamu masih merasa sanggup. Jangan sesekali mengatakan kamu tidak mencintainya lagi jika kamu masih tidak dapat melupakannya.
Perasaan cinta itu dimulai dari mata, sedangkan rasa suka dimulai dari telinga. Jadi jika kamu mahu berhenti menyukai seseorang, cukup dengan menutup telinga. Tapi apabila kamu Coba menutup matamu dari orang yang kamu cintai, cinta itu berubah menjadi titisan air mata dan terus tinggal dihatimu dalam jarak waktu yang cukup lama.
Cinta datang kepada orang yang masih mempunyai harapan walaupun mereka telah dikecewakan. Kepada mereka yang masih percaya, walaupun mereka telah dikhianati. Kepada mereka yang masih ingin mencintai, walaupun mereka telah disakiti sebelumnya dan kepada mereka yang mempunyai keberanian dan keyakinan untuk membangunkan kembali kepercayaan.
Jangan simpan kata-kata cinta pada orang yang tersayang sehingga dia meninggal dunia , lantaran akhirnya kamu terpaksa catatkan kata-kata cinta itu pada pusaranya . Sebaliknya ucapkan kata-kata cinta yang tersimpan dibenakmu itu sekarang selagi ada hayatnya.
Mungkin Tuhan menginginkan kita bertemu dan bercinta dengan orang yang salah sebelum bertemu dengan orang yang tepat, kita harus mengerti bagaimana berterima kasih atas kurniaan itu.
Cinta bukan mengajar kita lemah, tetapi membangkitkan kekuatan. Cinta bukan mengajar kita menghinakan diri, tetapi menghembuskan kegagahan. Cinta bukan melemahkan semangat, tetapi membangkitkan semangat -Hamka
Cinta dapat mengubah pahit menjadi manis, debu beralih emas, keruh menjadi bening, sakit menjadi sembuh, penjara menjadi telaga, derita menjadi nikmat, dan kemarahan menjadi rahmat.
Sungguh menyakitkan mencintai seseorang yang tidak mencintaimu, tetapi lebih menyakitkan adalah mencintai seseorang dan kamu tidak pernah memiliki keberanian untuk menyatakan cintamu kepadanya.
Hal yang menyedihkan dalam hidup adalah ketika kamu bertemu seseorang yang sangat berarti bagimu. Hanya untuk menemukan bahawa pada akhirnya menjadi tidak bererti dan kamu harus membiarkannya pergi.
Kamu tahu bahwa kamu sangat merindukan seseorang, ketika kamu memikirkannya hatimu hancur berkeping.
Dan hanya dengan mendengar kata “Hai” darinya, dapat menyatukan kembali kepingan hati tersebut.
Tuhan ciptakan 100 bahagian kasih sayang. 99 disimpan disisinya dan hanya 1 bahagian diturunkan ke dunia. Dengan kasih sayang yang satu bahagian itulah, makhluk saling berkasih sayang sehingga kuda mengangkat kakinya kerana takut anaknya terpijak.
Kadangkala kamu tidak menghargai orang yang mencintai kamu sepenuh hati, sehinggalah kamu kehilangannya. Pada saat itu, tiada guna sesalan karena perginya tanpa berpatah lagi.
Jangan mencintai seseorang seperti bunga, kerana bunga mati kala musim berganti. Cintailah mereka seperti sungai, kerana sungai mengalir selamanya.
Cinta mampu melunakkan besi, menghancurkan batu, membangkitkan yang mati dan meniupkan kehidupan padanya serta membuat budak menjadi pemimpin. Inilah dasyatnya cinta !
Permulaan cinta adalah membiarkan orang yang kamu cintai menjadi dirinya sendiri, dan tidak merubahnya menjadi gambaran yang kamu inginkan. Jika tidak, kamu hanya mencintai pantulan diri sendiri yang kamu temukan di dalam dirinya.
Cinta itu adalah perasaan yang mesti ada pada tiap-tiap diri manusia, ia laksana setitis embun yang turun dari langit,bersih dan suci. Cuma tanahnyalah yang berlain-lainan menerimanya. Jika ia jatuh ke tanah yang tandus,tumbuhlah oleh kerana embun itu kedurjanaan, kedustaan, penipu, langkah serong dan lain-lain perkara yang tercela. Tetapi jika ia jatuh kepada tanah yang subur,di sana akan tumbuh kesuciaan hati, keikhlasan, setia budi pekerti yang tinggi dan lain-lain perangai yang terpuji.~ Hamka
Kata-kata cinta yang lahir hanya sekadar di bibir dan bukannya di hati mampu melumatkan seluruh jiwa raga, manakala kata-kata cinta yang lahir dari hati yang ikhlas mampu untuk mengubati segala luka di hati orang yang mendengarnya.
Kamu tidak pernah tahu bila kamu akan jatuh cinta. namun apabila sampai saatnya itu, raihlah dengan kedua tanganmu,dan jangan biarkan dia pergi dengan sejuta rasa tanda tanya dihatinya
Cinta bukanlah kata murah dan lumrah dituturkan dari mulut ke mulut tetapi cinta adalah anugerah Tuhan yang indah dan suci jika manusia dapat menilai kesuciannya.
Bukan laut namanya jika airnya tidak berombak. Bukan cinta namanya jika perasaan tidak pernah terluka. Bukan kekasih namanya jika hatinya tidak pernah merindu dan cemburu.
Bercinta memang mudah. Untuk dicintai juga memang mudah. Tapi untuk dicintai oleh orang yang kita cintai itulah yang sukar diperoleh.
Satu-satunya cara agar kita memperolehi kasih sayang, ialah jangan menuntut agar kita dicintai, tetapi mulailah memberi kasih sayang kepada orang lain tanpa mengharapkan balasan.
well, i just post it here for scrapping it... keeping it on my memories...
Kamis, 03 Juni 2010
Seperti Bintang
Seperti Bintang: punya sinarnya sendiriMataku dapat menangkap sinar itu. Dan pasti yakin bahwa itu bukan hanya sebuah refleksi. Sinar itu berasal dari intinya, dari energinya sendiri. Bintang itu 'besar', 'panas', dan terasa begitu 'dekat'. Oleh karenanya, sinar putih kemilaunya terasa amat terang, mengalahkan milyaran bintang lain.
Ketika aku sudah terduduk di padang rumput yang luas beratapkan langit malam penuh bintang, aku tak bisa menahan hasrat untuk mendongak. Karena ku yakin Bintang itu pasti ada. Dan aku pun menemukannya. Jika sudah demikian, pastilah aku tahan berada di padang rumput itu berjam-jam, tanpa hirau akan dinginnya malam. Aku akan rebah di atas rumput basah, namun bersikeras untuk tidak menutup mata lebih dari seperseratus detik. Mataku akan terpaku pada Bintang, mengikuti gerak semunya.
Meski banyak orang menyukainya, Bintang tetaplah Bintang. Ia hanya makhluq yang mengikuti titah Penciptanya. Meskipun seribu decak untuknya datang bersamaan, Bintang tidak akan bertambah terang atau meredup seketika, tanpa izin Penciptanya. Meski banyak pasang mata yang tertuju padanya, Bintang tak pernah peduli akan mereka: para penggemar bintang. Bintang hanya peduli pada apa yang sudah digariskan Penciptanya. Ketika sudah tiba saatnya untuk meledak atau padam atau beralih menjadi black hole, Bintang tidak akan berpamitan atau meminta persetujuan para penggemarnya.
Seperti Bintang: bisa dijadikan sebagai navigator
Pelaut dengan peralatan minim masih bisa menggantungkan keselamatan mereka pada keahlian membaca langit malam. Namun tentu saja keahlian itu tidak ada artinya jika langit malam tersaput mendung, menutupi Bintang. Dengan Bintang, mereka terjaga dari luasnya lautan yang menyesatkan. Dengan Bintang, mereka bisa tahu pasti arah yang mereka tuju. Bintang seolah menuntun mereka untuk menemukan daratan yang dicari setelah sekian lama mengarungi samudra gelap nan sepi.
Seperti Bintang: panas, tak tersentuh
Suhu tinggi. Bahkan hingga sekarang belum ada misa pendaratan manusia ke Bintang. Teknologi yang dicapai manusia belum memadai untuk menjamah Bintang secara langsung. Jikalau jarak kita amat dekat dengan Bintang, matilah kita. Terbakar, hangus. Kedekatan jarak dengan Bintang dapat mengubah cinta kita menjadi rasa benci dan sumpah serapah karena ternyata dibalik sinar indahnya, Bintang memiliki sesuatu yang amat menyakitkan: permukaannya yang panas. Namun, bagi insan yang bijak, tentu ia tahu akan hal ini. Maka ia tak akan dengan bodohnya berharap dapat menjamah Bintang. Dia tidak akan gegabah. Jikapun ingin menjamah Bintang, pastinya ia mau mempersiapkan diri terlebih dahulu.
Seperti Bintang: menyimpan banyak misteri
Tak pernah Bintang mengungkap terlalu lugas apa-apa tentang dirinya. Meski telah banyak hal diketahui, namun selalu saja ada penemuan baru di setiap penelitian terhadap Bintang. Praduga, perkiraan, dan hipotesis masih banyak yang belum tertuntaskan pada titik kepastian.
Seperti Bintang: cahayanya bisa mengusir kegalauan di tengah gulita
Malam akan terasa lebih hangat dan ramah ketika ada Bintang. Seorang pengembara di tengah hutan akan merasa lebih nyaman jika sebelum ia tertidur, ia menyaksikan jutaan Bintang bercengkerama di langit. Bintang bisa mengusir sepi, mengisi kekosongan, hingga kita merasa nyaman.
Masih ku merasa angkuh
Terbang kenanganku jauh
Langit kan menangkapku
Walau kan terjatuhDan bila semua tercipta
Hanya untukku merasakan
Semua yang tercipta
Hampa hidup terasaLelah tatapku mencari
Arti untukku membagi
Menemani langkahku
Namun tak berartiDan bila semua tercipta
Tanpa harus ku merasakan
Cinta yang tersisa
Hampa hidup terasaReff:
Bagai bintang di surga
Dan seluruh warna
Dan kasih yang setia
Dan cahaya nyataOh bintang di surga
Berikan cerita
Dan kasih yang setia
Dan cahaya nyata
Bintang di Surga - Peterpan
gudanglagu.com
Rabu, 21 April 2010
Cintanya Para Pecinta-Nya
Baru-baru ini, aku habis baca artikel bagus banget... (to my mind) Berhubung temanya cocok sama blogku yang satu ini, I decided to share it with you! Please enjoy....
(Taken from this site)
MENCINTAI SEJANTAN ALI (Karromallahu wajhah)
Ada rahasia terdalam di hati ‘Ali yang tak dikisahkannya pada siapapun. Fathimah. Karib kecilnya, puteri tersayang dari Sang Nabi yang adalah sepupunya itu, sungguh memesonanya. Kesantunannya, ibadahnya, kecekatan kerjanya, parasnya.
Lihatlah gadis itu pada suatu hari ketika ayahnya pulang dengan luka memercik darah dan kepala yang dilumur isi perut unta. Ia bersihkan hati-hati, ia seka dengan penuh cinta. Ia bakar perca, ia tempelkan ke luka untuk menghentikan darah ayahnya. Semuanya dilakukan dengan mata gerimis dan hati menangis. Muhammad ibn ’Abdullah Sang Tepercaya tak layak diperlakukan demikian oleh kaumnya!
Maka gadis cilik itu bangkit. Gagah ia berjalan menuju Ka’bah. Di sana, para pemuka Quraisy yang semula saling tertawa membanggakan tindakannya pada Sang Nabi tiba-tiba dicekam diam. Fathimah menghardik mereka dan seolah waktu berhenti, tak memberi mulut-mulut jalang itu kesempatan untuk menimpali. Mengagumkan!
‘Ali tak tahu apakah rasa itu bisa disebut cinta.
Tapi, ia memang tersentak ketika suatu hari mendengar kabar yang mengejutkan. Fathimah dilamar seorang lelaki yang paling akrab dan paling dekat kedudukannya dengan Sang Nabi.
Lelaki yang membela Islam dengan harta dan jiwa sejak awal-awal risalah. Lelaki yang iman dan akhlaqnya tak diragukan; Abu Bakr Ash Shiddiq, Radhiyallaahu ’Anhu.
”Allah mengujiku rupanya”, begitu batin ’Ali. Ia merasa diuji karena merasa apalah ia dibanding Abu Bakr. Kedudukan di sisi Nabi? Abu Bakr lebih utama, mungkin justru karena ia bukan kerabat dekat Nabi seperti ’Ali, namun keimanan dan pembelaannya pada Allah dan RasulNya tak tertandingi.
Lihatlah bagaimana Abu Bakr menjadi kawan perjalanan Nabi dalam hijrah sementara ’Ali bertugas menggantikan beliau untuk menanti maut di ranjangnya..
Lihatlah juga bagaimana Abu Bakr berda’wah. Lihatlah berapa banyak tokoh bangsawan dan saudagar Makkah yang masuk Islam karena sentuhan Abu Bakr; ’Utsman, ’Abdurrahman ibn ’Auf, Thalhah, Zubair, Sa’d ibn Abi Waqqash, Mush’ab..
Ini yang tak mungkin dilakukan kanak-kanak kurang pergaulan seperti ’Ali.
Lihatlah berapa banyak budak muslim yang dibebaskan dan para faqir yang dibela Abu Bakr; Bilal, Khabbab, keluarga Yassir, ’Abdullah ibn Mas’ud.. Dan siapa budak yang dibebaskan ’Ali?
Dari sisi finansial, Abu Bakr sang saudagar, insyaallah lebih bisa membahagiakan Fathimah.
’Ali hanya pemuda miskin dari keluarga miskin.
”Inilah persaudaraan dan cinta”, gumam ’Ali.
”Aku mengutamakan Abu Bakr atas diriku, aku mengutamakan kebahagiaan Fathimah atas cintaku.”
Cinta tak pernah meminta untuk menanti.
Ia mengambil kesempatan atau mempersilakan.
Ia adalah keberanian, atau pengorbanan.
Beberapa waktu berlalu, ternyata Allah menumbuhkan kembali tunas harap di hatinya yang sempat layu. Lamaran Abu Bakr ditolak. Dan ’Ali terus menjaga semangatnya untuk mempersiapkan diri. Ah, ujian itu rupanya belum berakhir.
Setelah Abu Bakr mundur, datanglah melamar Fathimah seorang laki-laki lain yang gagah dan perkasa, seorang lelaki yang sejak masuk Islamnya membuat kaum muslimin berani tegak mengangkat muka, seorang laki-laki yang membuat syaithan berlari takut dan musuh-musuh Allah bertekuk lutut. ’Umar ibn Al Khaththab.
Ya, Al Faruq, sang pemisah kebenaran dan kebathilan itu juga datang melamar Fathimah. ’Umar memang masuk Islam belakangan, sekitar 3 tahun setelah ’Ali dan Abu Bakr. Tapi siapa yang menyangsikan ketulusannya? Siapa yang menyangsikan kecerdasannya untuk mengejar pemahaman? Siapa yang menyangsikan semua pembelaan dahsyat yang hanya ’Umar dan Hamzah yang mampu memberikannya pada kaum muslimin?
Dan lebih dari itu, ’Ali mendengar sendiri betapa seringnya Nabi berkata, ”Aku datang bersama Abu Bakr dan ’Umar, aku keluar bersama Abu Bakr dan ’Umar, aku masuk bersama Abu Bakr dan ’Umar..”
Betapa tinggi kedudukannya di sisi Rasul, di sisi ayah Fathimah.
Lalu coba bandingkan bagaimana dia berhijrah dan bagaimana ’Umar melakukannya. ’Ali menyusul sang Nabi dengan sembunyi-sembunyi, dalam kejaran musuh yang frustasi karena tak menemukan beliau Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam. Maka ia hanya berani berjalan di kelam malam. Selebihnya, di siang hari dia mencari bayang-bayang gundukan bukit pasir.
Menanti dan bersembunyi.
’Umar telah berangkat sebelumnya. Ia thawaf tujuh kali, lalu naik ke atas Ka’bah. ”Wahai Quraisy”, katanya. ”Hari ini putera Al Khaththab akan berhijrah. Barangsiapa yang ingin isterinya menjanda, anaknya menjadi yatim, atau ibunya berkabung tanpa henti, silakan hadang ’Umar di balik bukit ini!”
’Umar adalah lelaki pemberani. ’Ali, sekali lagi sadar. Dinilai dari semua segi dalam pandangan orang banyak, dia pemuda yang belum siap menikah. Apalagi menikahi Fathimah binti Rasulillah! Tidak. ’Umar jauh lebih layak. Dan ’Ali ridha.
Cinta tak pernah meminta untuk menanti.
Ia mengambil kesempatan.
Itulah keberanian.
Atau mempersilakan.
Yang ini pengorbanan.
Maka ’Ali bingung ketika kabar itu meruyak. Lamaran ’Umar juga ditolak. Menantu macam apa kiranya yang dikehendaki Nabi? Yang seperti ’Utsman sang miliarder kah yang telah menikahi Ruqayyah binti Rasulillah? Yang seperti Abul ’Ash ibn Rabi’ kah, saudagar Quraisy itu, suami Zainab binti Rasulillah? Ah, dua menantu Rasulullah itu sungguh membuatnya hilang kepercayaan diri. Di antara Muhajirin hanya ’Abdurrahman ibn ’Auf yang setara dengan mereka. Atau justru Nabi ingin mengambil menantu dari Anshar untuk mengeratkan kekerabatan dengan mereka? Sa’d ibn Mu’adz kah, sang pemimpin Aus yang tampan dan elegan itu? Atau Sa’d ibn ’Ubadah, pemimpin Khazraj yang lincah penuh semangat itu?
”Mengapa bukan engkau yang mencoba kawan?”, kalimat teman-teman Ansharnya itu membangunkan lamunan.
”Mengapa engkau tak mencoba melamar Fathimah? Aku punya firasat, engkaulah yang ditunggu-tunggu Baginda Nabi..”
”Aku?”, tanyanya tak yakin.
”Ya. Engkau wahai saudaraku!”
”Aku hanya pemuda miskin. Apa yang bisa kuandalkan?”
”Kami di belakangmu, kawan! Semoga Allah menolongmu!”
’Ali pun menghadap Sang Nabi. Maka dengan memberanikan diri, disampaikannya keinginannya untuk menikahi Fathimah. Ya, menikahi. Ia tahu, secara ekonomi tak ada yang menjanjikan pada dirinya. Hanya ada satu set baju besi di sana ditambah persediaan tepung kasar untuk makannya. Tapi meminta waktu dua atau tiga tahun untuk bersiap-siap? Itu memalukan! Meminta Fathimah menantikannya di batas waktu hingga ia siap? Itu sangat kekanakan. Usianya telah berkepala dua sekarang.
”Engkau pemuda sejati wahai ’Ali!”, begitu nuraninya mengingatkan. Pemuda yang siap bertanggungjawab atas rasa cintanya. Pemuda yang siap memikul resiko atas pilihan-pilihannya.
Pemuda yang yakin bahwa Allah Maha Kaya.
Lamarannya berjawab, ”Ahlan wa sahlan!” Kata itu meluncur tenang bersama senyum Sang Nabi.
Dan ia pun bingung. Apa maksudnya? Ucapan selamat datang itu sulit untuk bisa dikatakan sebagai isyarat penerimaan atau penolakan. Ah, mungkin Nabi pun bingung untuk menjawab.
Mungkin tidak sekarang. Tapi ia siap ditolak. Itu resiko.
Dan kejelasan jauh lebih ringan daripada menanggung beban tanya yang tak kunjung berjawab.
Apalagi menyimpannya dalam hati sebagai bahtera tanpa pelabuhan. Ah, itu menyakitkan.
”Bagaimana jawab Nabi kawan? Bagaimana lamaranmu?”
”Entahlah..”
”Apa maksudmu?”
”Menurut kalian apakah ’Ahlan wa Sahlan’ berarti sebuah jawaban!”
”Dasar tolol! Tolol!”, kata mereka,
”Eh, maaf kawan.. Maksud kami satu saja sudah cukup dan kau mendapatkan dua! Ahlan saja sudah berarti ya. Sahlan juga. Dan kau mendapatkan Ahlan wa Sahlan kawan! Dua-duanya berarti ya!”
Dan ’Ali pun menikahi Fathimah. Dengan menggadaikan baju besinya. Dengan rumah yang semula ingin disumbangkan kawan-kawannya tapi Nabi berkeras agar ia membayar cicilannya.
Itu hutang.
Dengan keberanian untuk mengorbankan cintanya bagi Abu Bakr, ’Umar, dan Fathimah. Dengan keberanian untuk menikah. Sekarang. Bukan janji-janji dan nanti-nanti. ’Ali adalah gentleman sejati. Tidak heran kalau pemuda Arab memiliki yel, “Laa fatan illa ‘Aliyyan! Tak ada pemuda kecuali Ali!”
Inilah jalan cinta para pejuang. Jalan yang mempertemukan cinta dan semua perasaan dengan tanggungjawab. Dan di sini, cinta tak pernah meminta untuk menanti. Seperti ’Ali. Ia mempersilakan. Atau mengambil kesempatan. Yang pertama adalah pengorbanan. Yang kedua adalah keberanian.
Dan ternyata tak kurang juga yang dilakukan oleh Putri Sang Nabi, dalam suatu riwayat dikisahkan bahwa suatu hari (setelah mereka menikah) Fathimah berkata kepada ‘Ali,
“Maafkan aku, karena sebelum menikah denganmu. Aku pernah satu kali merasakan jatuh cinta pada seorang pemuda”
‘Ali terkejut dan berkata, “kalau begitu mengapa engkau mau manikah denganku? dan Siapakah pemuda itu”
Sambil tersenyum Fathimah berkata, “Ya, karena pemuda itu adalah Dirimu”
Kisah ini disampaikan disini, bukan untuk membuat kita menjadi mendayu-dayu atau romantis-romantis-an. Kisah ini disampaikan agar kita bisa belajar lebih jauh dari ‘Ali dan Fathimah bahwa ternyata keduanya telah memiliki perasaan yang sama semenjak mereka belum menikah tetapi dengan rapat keduanya menjaga perasaan itu.
Perasaan yang insyaAllah akan indah ketika waktunya tiba.
Karena cinta adalah memberi...
Pemberian tulus dari hati...
Tanpa paksaan, jikalau tak suka, ia bebas menolak...
Namun sang pecinta kan tetap mencinta...
Karena cinta adalah menerima...
Pengakuan jikalau diri masih perlu berbenah...
Jiwa ksatria yang tidak segan mundur jika perlu...
Karena cinta adalah kecukupan...
Cukupkan mencinta, tanpa harap kembali...
Kita mampu melimpahi semua orang dengan cinta...
Meski cinta kita mereka acuhkan...
Kita tetap bisa mencinta mereka...
Karena cinta adalah kebebasan, bukan kekangan...
Membebaskan yang dicinta meraih bahagianya...
Senin, 01 Maret 2010
Mutiara Cinta 2
“Bertemu dan berpisah denganmu, sukses memporandakan tenangnya hati ini…”
Kawan, sudahkah engkau berpikir akan pasangan hidupmu kelak? Seperti apa kriterianya? Tampan? Cantik? Sholeh? Pintar? Kaya? Atau…?
Hmm, apapun angan kalian tentang calon pendamping ideal, aku yakin kalian setuju dengan kata-kataku ini: Pasangan hidup yang terbaik adalah pasangan yang bisa membuat kita merasa nyaman, tentram, baik ketika kita mendekapnya, memandangnya, ataupun hanya sekedar mengingatnya. Merasa aman dalam keadaan apapun.
Tulisan ini aku dedikasikan khusus untuk diriku dan remaja-remaja yang sedang dilanda
Apa sebenarnya tujuan berpacaran?
Sungguh sulit bagiku untuk menjawab pertanyaan itu. Karena aku tidak melihat satupun tujuannya. Yang kulihat hanyalah suatu ketidakjelasan.
Lalu, apa gunanya memendam cinta? Membiarkannya busuk tanpa ada yang tahu? Memutuskan untuk tidak menyibaknya? Apalagi untuk berpacaran?
Kawan, mungkin kau akan terhindar dari satu dosa, tapi tetap saja kau tak bisa lepas dari dosa. Mungkin kau akan terhindar dari berpacaran. Namun, bersediakah kau menjamin bahwa hati dan pikiranmu sepenuhnya juga terbebas dari bayang nafsu cinta? Sepenuhnya terfokus pada Dia semata? Tetap beramal demi ridho-Nya ataukah kau akan beramal demi riya’ terhadap orang yang kau cintai? Demi memenangkan perhatiannya?
Segala anugrah masa remaja ini sejatinya adalah ujian bagi kita sendiri. Mampukah kita mengendalikan nafsu cinta? Ataukah kita akan mengalah padanya?
Apakah kita, remaja-remaja yang sedang kasmaran, juga merasa nyaman, tentram, dan aman dengan keberadaan si dia, orang yang kita taksir itu? Jikalau tidak, maka kenapa masih saja diteruskan?
Jumat, 19 Februari 2010
Mutiara Cinta
"Ya Allah, jadikan hamba wanita yang merdeka dari segala rasa cinta yang menyakitkan hati..."
Dulu, hatiku pernah tak menentu karena bertemu seorang perempuan yang sebelumnya tak kukenal. Dia perempuan yang pernah memenangkan hati bintang. Dia perempuan yang pernah mengisi hari-hari bintang dengan keceriaan, mungkin. Dan meski sekarang ia jauh dari bintang, ia tetap ada dan kuyakin ia masih mencintai bintang.
Sungguh, kala itu aku benar-benar bingung. Kenapa jadi begini? Aku tahu, ada banyak orang yang mengagumi bintang. Namun, aku tak pernah menyangka ada orang yang telah berhasil menaklukannya, mendarat di bintang. Aku tak pernah menyangka ada orang yang telah berhasil menjamah hatinya.
Perlahan, kagumku pada bintang memudar. Fakta itu telah menyadarkanku akan ketidaksempurnaan bintang. Rasaku padanya tak pernah sama lagi sejak saat itu.
Namun sayang, aku tak bisa menghilangkan kebiasaan yang terlanjur mendarah daging. Aku tak bisa berhenti mendongak, menatap langit, dan mencari bintang. Ketika kutemukan ia, rasa lega menelusup di kalbu, sejenak. Setelah itu, aku kembali berselimut rasa tak menentu akannya. Rasa yang rumit, tak bisa kujelaskan dengan kata-kata.
Mungkin pertemuan dengan perempuan itu adalah suatu teguran bagiku. Aku yang telah berani menduakan cinta Allah demi manusia biasa, menduakan cinta sang Maha Sempurna. Allah yang seharusnya menjadi prioritas cinta nomor satu.
Di balik semua keabstrakan ini, aku masih bisa bersyukur. Aku masih punya banyak orang yang mencintaiku. Teman-teman seperjuangan, kakak-kakak yang tak henti membimbingku, keluarga tercinta, dan guru-guru yang senantiasa menasihatiku. Mereka yang terus memotivasi dan mendukungku untuk terus berkarya, melakukan hal-hal yang terbaik dalam hidupku.
I love you all… Thanks for the love you give to me… =)

