Sabtu, 18 Agustus 2012

Satu ≠ Homogen Total

Kemarin nonton iklan di TV dan jadi inget satu momen pas OSKM ITB 2012 kemarin... Hari terakhir, 31 Juli 2012 *ulang tahunnya JK Rowling

Seorang senior dari massa kampus bertanya kepada maba 2012, kurang lebih begini pertanyaannya:

"Kalian lihat di sini, kami massa kampus memakai jaket dengan warna yang berbeda-beda. Apa kalian yakin bahwa kami ini Satu KM ITB?"

Aku jelaskan sedikit yaa.. Yang dimaksud massa kampus itu mahasiswa-mahasiswa tingkat atas. Mereka yang udah tergabung dalam himpunan maupun unit mahasiswa. Di OSKM kemarin, massa kampus memakai jaket identitas himpunan / unit yang mereka wakili. Tentunya jaket setiap himpunan / unit memiliki ciri khas sendiri, salah satu yang gampang diamati ya warnanya. Himpunan X warna jaketnya abu-abu, unit Z jaketnya cokelat, dsb.

Terus, KM ITB itu apa?

Kalau di perguruan tinggi lain ada Badan Eksekutif Mahasiswa [BEM], di ITB kita punya Keluarga Mahasiswa [KM] ITB. Semua himpunan dan unit mahasiswa bernaung di bawah KM ITB ini. Mirip sama hubungan antara organisasi-organisasi ekskul di SMA dengan OSIS.

Balik ke pertanyaan tadi...

Setelah merenungkan pertanyaan itu aku punya jawaban. Untuk bersatu, kita tidak perlu melebur untuk menghasilkan suatu kelompok yang homogen total. Kita tetap boleh --bahkan harus-- memiliki 'warna' sendiri. Yang perlu dilakukan agar bisa mewujudkan persatuan adalah bersinergi, berusaha supaya aneka 'warna' dari masing-masing individu bisa saling melengkapi dalam harmoni.

Bahkan dalam unit terkecil kehidupan pun tidak ada ke-homogen-an total. Satu sel tubuh kita terdiri dari bermacam organel dengan spesialisasi masing-masing kan.... :)


Selasa, 14 Agustus 2012

Rama si Gajah

Ini secuil kisahku menjalani puasa di tanah rantau: Bandung :)

Hampir setiap hari aku ngabuburit di Masjid Salman ITB. Kenapa?

Di sore-sore tertentu, ada acara Inspirasi Ramadan (Irama) yang mendatangkan tokoh-tokoh inspiratif seperti Hatta Rajasa, A. Fuadi, tim nasyid Tashiru, Justice Voice, dll. Lumayan juga kan bisa menyaksikan mereka secara live tanpa bayar, hehe..

Terus, Masjid Salman ITB juga membagikan ta'jil plus ifthor gratis sebanyak 1000 porsi. Wajar dong kalau saya [sebagai anak kos] mengharap dapet jatah X) Makanya saya ngabuburit di Salman. Tapi kadang-kadang juga saya nggak ngambil jatah gratisan walau dari sore ngabuburit di Salman.

Dan yang terakhir, alasan saya betah ngabuburit di Salman karena saya bisa kumpul sama temen-temen plus dapat hiburan dari maskot panitia Ramadan Salman: Rama si Gajah!! Rama lucu bangeeeeeet XD Pernah saya ketawa sampai nangis cuma gara-gara lihat tingkah si Rama. Ini nih foto-foto si Rama...





Kalau si Rama ini jalan, badannya jadi goyang-goyang lucu gituu... Tambah lucu lagi pas lihat Rama dibully sama host  Irama XD

Perhatiin sarungnya deh! Itu sarung udah kayak rok aja..

Pernah suatu hari si Rama disuruh meragain gerakan sholat. Buat sedekap aja agak ribet gara-gara belalainya. Terus pas awal-awal, si Rama juga gak bisa ruku', tapi akhirnya bisa. Untuk tahiyat, ini nih masalahnya, sarung tangan si Rama gak memungkinkan untuk menunjuk hanya dengan jari telunjuk X)

Waktu bintang tamunya SNADA, si Rama diajarin koreo lagu 'Jagalah Hati'. Lucunya, pas SNADA bilang 'hati' mestinya kan si Rama menepuk dada, tapi dianya malah megang perut, wkwkwk

Si Rama juga pernah didandanin pake daster lhoo buat acara khusus muslimah. Tapiii, walau udah pake daster, tetep aja tuh peci nempel di kepala. Hahaha, gendernya jadi gak jelas. Susah juga ding kalau Rama didandanin pake kerudung. Telinganya aja lebar banget gituu... Ini nih foto si Rama pake daster, kuambil dari blog temen..
Kebanyakan fans Rama adalah anak-anak. Nonton si Rama maen kejar-kejaran sama anak-anak kecil adalah hiburan tersendiri. Apalagi pas Rama terpeleset di lapangan rumput Salman, ngakak aku!! Tapi walau habis terpeleset, dia tetep ceria dan lucu... Langsung berdiri dan kejar-kejaran lagi sama anak kecil :)

Rama...Rama... kau lucu sekali.... :D

Sorry

Untuk kamu yang baru saja kembali,
Maaf, dalam waktu singkat aku lagi-lagi telah memaksamu melakukan sesuatu, demi obsesiku.

Rasa bersalahku dulu jadi terusik lagi kini.
Walau kau mengatakan -- atau hanya menampakkan sikap -- ikhlas, aku tak berani berharap hatimu ikhlas 100 persen, mengingat kenangan kita di bulan kelahiranku tahun ini.

Bukan aku tak percaya kau lagi, aku hanya takut diriku tertipu oleh perkiraanku sendiri [lagi]

Untuk kamu yang baru saja kembali,
Aku ingin agar aku bisa tidak lagi memaksamu melakukan sesuatu, baik disengaja ataupun tidak.
Semoga aku bisa mewujudkan keinginan ini...



Dari aku yang tak ingin dihibur dengan kamuflase,
H.L.H