Sabtu, 30 Juni 2012

Konsisten dalam Inkonsistensi


"Membingungkan. Kashva mulai memahami Astu sebagai dewi penguasa ombak, sedangkan dirinya adalah seseorang yang berdiri limbung mencoba mempertahankan sampan reyotnya berlayar tenang di tengah samudra. Bagi Kashva, Astu adalah pribadi yang konsisten dalam inkonsistensi...."

[Tasaro dalam MUHAMMAD: Lelaki Penggenggam Hujan, hal. 187]

_____________________________________________

Konsisten itu ajeg, tetap, stabil, nggak berubah-ubah.
[pemaknaan pribadi]

_____________________________________________

"...hati bisa berubah, pikiran juga bisa terlupakan..."

[Alfi]

_____________________________________________

Aku sering berpikir keras tentang cara mempertahankan tanganku agar tidak bergetar, agar posisinya mantap, demi bisa memotret dengan sangat bagus. Namun, semakin keras usahaku untuk mencegah tangan ini bergetar, rasanya koq semakin sulit menghentikan getaran-getarannya? Bahkan getarannya malah terasa sedikit lebih kencang.

_____________________________________________

Konsisten dalam inkonsistensi. Berarti stabil dalam kelabilan, tetap dalam ketakpastian.

Apakah itu tidak baik?

Aku pernah marah kepada seorang kawan dan dengan senang hati merentangkan jarak antara aku dan dia. Aku pernah merasa lelah dan tak ingin lagi peduli padanya, membiarkan dia melakukan apa yang menurutnya baik, melakukan apa yang sesuai dengan inginnya.

Namun, seiring dengan berlalunya hari, minggu, dan bulan, rasa rindu kembali menyapaku. Rindu kepadanya. Ingin tahu bagaimana kabarnya. Mulai mencoba menerima kejadian lampau. Memaafkan kegegabahan diri sendiri yang saat itu tak bisa bersabar. Dan mencoba membangun keberanian untuk memperbaiki silaturahim.

Terdengar plin-plan...?

I think it's fine. Itu sebagian dari proses pendewasaanku. Suatu proses yang pasti butuh waktu.



1 komentar:

What do you think about this post? Please leave your comment!